![]() |
|
Urip neng donya iki mung mampir ngombe“, itulah pepatah Jawa yang artinya bahwa hidup ini hanya mampir sejenak untuk minum. Pepatah ini menggambarkan kehidupan manusia itu seperti orang yang mengadakan perjalanan yang sangat jauh.
Zaman dahulu, pada halaman rumah Jawa selalu ada kendi yang berisi air putih. Para pengelana yang kehausan boleh minum air putih secara gratis. Setelah dahaga dan letih hilang, maka mereka melanjutkan perjalanan lagi. Demikianlah juga perjalanan kehidupan di dunia sebenarnya sangat pendek dibandingkan kekekalan yang dilalui selepas kita mati di dunia ini.
Mazmur ini memperlihatkan keadaan yang tidak menentu, namun setiap ancaman bahaya disingkirkan oleh kepercayaan kepada Tuhan yang tidak tergoyahkan itu. Penerapannya bagi kesengsaraan-kesengsaraan yang mungkin dihadapi dalam perjalanan ziarah itu semakin jelas, dan agaknya latar belakang demikian ia memberi makna yang sungguh bagi Mazmur ini.
Orang yang menghadapi perjalanan-entah ke tempat jauh atau dalam suatu babak baru dalam hidupnya-biasanya khawatir, karena di dalam situasi yang belum dikenal dan mungkin berbahaya itu orang memerlukan pertolongan.
Dalam situasi demikian, kita mendapatkan janji dan penghiburan di dalam Mazmur 121. Mazmur ini kemungkinan besar dinyanyikan oleh para peziarah yang berjalan hendak pulang dari Yerusalem. Ketika melayangkan mata di sebelah timur dan selatan, mereka melihat pegunungan yang sunyi, dimana binatang buas dan perampok menantikan mangsa. Mereka merasa khawatir, dalam bahaya yang akan timbul, dari manakah datang pertolongan?
Pada ayat berikutnya, pemazmur memberikan jawaban dalam bentuk pengakuan percaya: pertolonganku ialah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Itu artinya, Allah sanggup menolong dimana saja, tidak dibatasi oleh wilayah secara geografis.
Allah juga menjaga kita tanpa batasan waktu. Kalau dewa-dewa kesuburan terlelap di musim rontok dan tidur di musim dingin. Elia mengolok-olok nabi Baal dengan mengatakan bahwa dewa-dewa mereka mungkin sedang tidur. “Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga” (1 Raj.18:27)
Tidak demikian halnya dengan Tuhan. Ia senantiasa menjaga kita seperti seorang gembala yang menjaga kawanan domba-Nya (Mzm. 80:2; 95:7 dan Mzm 23). Dengan penuh keyakinan, pemazmur berkata: “Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.” (Mzm. 121:3-4). Allah selalu terjaga dan waspada. Sebagai penjaga, Allah selalu penuh konsentrasi sehingga tidak ada satu pun yang terlewat dari pengawasan-Nya.
Tuhan menjagai kita. Menurut kebiasaan, seorang penolong selalu berjalan di sebelah kanan yang ditolong. Allah juga menaungi kita, baik di siang hari maupun malam hari,
Tuhan juga melindungi kita dari kecelakaan(arti harfiahnya: “yang jelek atau jahat”). Yang dimaksudkan di sini bukanlah kesulitan biasa melainkan pukulan yang merusak hidup. Itu sebabnya Tuhan menjaga nyawamu. Perlindungan Tuhan itu berlaku dari saat orang keluar dari Bait Suci menuju tempat kediaman masing-masing, sampai ia masuk lagi ke Bait Suci pada perayaan tahun berikutnya. Itu artinya, perlindungan itu dari sekarang sampai selama-lamanya.
***
Buku ini merupakan kelanjutan dari buku “Tuhan Yesus tidak Tidur” jilid pertama yang mendapat sambutan hangat dari pembaca. Sejak diterbitkan pada Mei 2007 sampai dengan November 2008, buku ini sudah naik cetak sebanyak lima kali. Tema utama dalam buku ini masih hampir sama dengan buku sebelumnya yaitu mengandalkan Tuhan pada masa kesukaran.
Isi buku ini dibagi menjadi empat bagian besar. Bagian pertama menampilkan pertolongan Tuhan pada masa kesukaran. Saya menampilkan beberapa kesaksian orang Kristen yang telah mengalami kuasa Allah secara ajaib. Bagian kedua mengupas tentang pergumulan-pergumulan yang dihadapi oleh orang Kristen dan bagaimana menyikapinya dengan tepat. Bagian ketiga, membahas topik tentang pentingnya bersyukur. Bukan hanya setelah terbebas dari kesukaran, tetapi juga ketika masih bergumul di dalamnya. Bagian keempat, mengulas perbuatan-perbuatan yang dapat kita lakukan untuk menceritakan perbuatan Tuhan yang telah kita alami dalam hidup kita.
Saya berharap buku ini dapat mendampingi Anda di dalam bergumul dengan kesukaran-kesukaran kehidupan. Ketika melayangkan mata ke sekeliling kehidupan, mungkin Anda melihat berbagai bahaya yang siap menerkam Anda. Tapi jangan cemas! Ingatlah bahwa Penjagamu tidak pernah terlelap. Tuhan Yesus tidak tidur.
Purnawan Kristanto







Post new comment