![]() |
|
-
Mencinta Hingga Terluka![]()
- ResensiMencintai orang yang mencintai kita itu mudah, namun mencintai orang yang memperlakukan kita sedemikian buruk hingga ‘tak patut’ dicintai itu perkara lain. Meskipun perintah untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya jelas tersurat (Matius 5:44), mengejawantahkan tuntunan tersebut dalam kehidupan sehari-hari tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Jangankan memaafkan apalagi mencinta, bertemu muka saja sudah terasa berat. Begitupun, layaknya anak yang harus dan perlu menaati perintah Bapanya, sepahit dan sesakit apa pun titah itu mesti dilaksanakan. Lalu, sampai pada titik mana kita perlu mengasihi? Sampai terluka. Begitu jawab Simanjuntak dan Ndraha dalam buku ini. Penalaran yang sederhana namun indah atas jawaban tersebut tersaji dalam deretan kalimat berikut, “melalui semua itu [luka], cinta kami bertumbuh. Maka, jangan takut terluka.” (Simanjuntak & Ndraha, 2006, h.14). Yesus telah terlebih dahulu memberi teladan bagaimana mencinta hingga terluka pada manusia yang sebenarnya tidak pantas untuk dicintai. Model cinta tanpa syarat yang utuh inilah yang diusung oleh penulis sebagai tema buku yang terdiri dari 8 bab plus sebuah refleksi akhir ini. ’Cinta’ merupakan kata yang sering mampir ke telinga - sering diucapkan dan juga diekspresikan - dan seolah telah menjadi bagian alamiah yang ada begitu saja dalam diri manusia. Uniknya, buku ini menawarkan pengertian baru dari kata ini. ’Cinta’ didefinisikan sebagai sebuah skill alias ketrampilan yang berarti kemampuan untuk melakukan sesuatu, yang biasanya diperoleh melalui latihan atau pengalaman. Konsekuensinya, kemampuan untuk mencintai secara utuh tak bersyarat tidak hadir begitu saja. Cinta ternyata perlu dilatih dan diasah. Cara melatih dan mengasah cinta dipaparkan secara runtut dari bab pertama hingga bab ketujuh. Setiap bab membahas syarat yang harus ditempuh untuk dapat mencinta dengan utuh. Syarat utama yang menjiwai syarat-syarat lainnya adalah kesediaan untuk tidak takut terluka karena cinta itu berarti memaafkan kesalahan orang lain, bahkan yang paling menyakitkan sekalipun (bab 2). Cinta juga berarti pengorbanan (bab 5), dan seringkali menuntut kesabarab (bab 6). Perjalanan tidak berhenti ketika cinta itu sudah tumbuh, cinta juga perlu dirawat (bab 8). Kesemuanya dikemas secara rinci di setiap bab. Cinta adalah hal abstrak yang tak dapat disentuh tangan, namun penulis berhasil menejelaskan cara mempraktikkannya dengan demikian konkrit seolah mendemontrasikan bagaimana membuat nasi goreng. Penggunaan beberapa ilustrasi yang diambil dari kisah nyata sebagai studi kasus memberikan gambaran yang jelas mengenai bagaimana seharusnya kita mencintai. Gaya tutur yang sederhana membuat bahasan dalam buku ini terkesan mengalir dan mudah dipahami. Hanya saja pada bab 8 yang menjelaskan bagaimana merawat cinta terdapat beberapa istilah teknis yang sedikit lebih sulit dicerna bila dibandingkan dengan bab-bab terdahulu. Buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang tengah mengalami saat-saat sulit dalam hubungan, khususnya bagi mereka yang tengah menghadapi orang yang telah menorehkan luka sampai-sampai terasa tidak mungkin lagi dicintai. Seperti kasih Tuhan yang tak terbatas, buku ini menyampaikan pesan penting bahwa selalu ada satu kata dan perbuatan yang mengubah manusia, yakni CINTA. Cinta seperti apa yang Anda tabur saat ini? »
|
CariUser loginSimilar entriesRecent comments
Shoutbox KomselWho's new
Who's onlineThere are currently 0 users and 2 guests online.
|
Post new comment