![]() |
|
-
The Impact![]()
- Resensi
Berukuran mungil dengan sampul yang didominasi warna hitam, buku ini nyaman digenggam. Begitu saya buka, saya mendapati kata-kata tercetak di atas kertas dengan kualitas baik, dan ukuran serta jenis font yang nyaman dibaca. Beberapa hal sepele yang sedikit banyak mempengaruhi kenikmatan membaca sebuah buku. Menilik ke daftar isi, terdapat tujuh belas nama tokoh –15 pria dan 2 wanita. Saya pun berpikir bahwa ini adalah salah satu dari demikian banyak buku biografi yang menuliskan jejak-jejak orang terkenal lengkap dengan sederetan fakta historisnya. Jujur saja, meski menghargai sejarah, saya tidak terlalu menyukai buku-buku sejarah yang hanya menderetkan fakta dan seringkali kering dari emosi. Saya bertanya-tanya, adakah buku ini sama dengan buku-buku biografi yang sekedar menjejerkan fakta historis? Ketika saya sekali lagi membaca deretan nama itu, mata saya tertuju pada beberapa nama yang belum saya kenal, seperti Solzhenitsyn dan Rose Park. Terdorong oleh rasa keingintahuan, saya membalik halaman buku dan mulai membaca dengan sungguh-sungguh. Makin saya baca, makin saya menikmati untaian kata yang dirangkai oleh penulis. Ternyata ”The Impact” menawarkan hal-hal baru yang belum saya temui di buku-buku biografi lain. Ditulis dengan bahasa Indonesia yang kaya, kalimat-kalimat yang disajikan dalam buku ini demikian mengena. Begitupun, kekayaan bahasa tersebut tidak lantas membuat pembahasan berbelit-belit. Kisah-kisah tetap terangkai secara lugas dan cukup ringan untuk dipahami. Penulis menunjukkan upayanya untuk menerapkan prinsip Keep It Short and Simple (KISS), hingga menghasilkan sesuatu yang manis tetapi tetap ringkas. Hal utama yang membedakan buku ini dari biografi lain adalah kolom “Jejak Iman” yang menggarisbawahi hal-hal penting dari sang tokoh yang tengah di bahas dari sudut pandang keimanan. Selain itu, pilihan tokoh yang tak terduga benar-benar menyentuhkan warna yang segar mengenai betapa orang-orang biasa dapat berdampak luar biasa bagi diri dan lingkungannya. Satu hal lain yang harus diapresiasi adalah bagian pengantar buku ini. Menurut saya, di sepanjang buku ini, penulis menyajikan tulisannya yang terbaik justru pada bagian pengantarnya. Poin yang disajikan cukup jelas: Allah tidak mencari orang-orang hebat, tetapi orang-orang yang bersedia untuk taat. Sebuah poin yang menjiwai keseluruhan isi buku setebal 136 halaman ini. Selesai membaca, terdapat beberapa pelajaran yang dapat saya raup dari buku ini. Seperti yang disampaikan penulis dalam pengantarnya, Allah tidak menuntut kita menjadi orang penting. Selama kita taat dan menyerahkan segala yang ada pada kita ke dalam tanganNya dengan penuh ketaatan, Ia pasti mampu mengubah hal yang nampak biasa menjadi luar biasa. Seringkali saya berhenti membaca untuk sekedar merenung betapa Allah menunjukkan betapa luar biasanya IA lewat betapa biasanya manusia bila IA berkenan. Tuhan bisa menggunakan segala hal – kecil atau besar; pahit maupun manis – untuk kemuliaanNya. Allah juga penuh kejutan, terkadang rencanaNya yang besar seolah membelokkan rencana kita –seperti dalam kisah Chuck Norris—yang pada akhirnya justru lebih indah dan bermakna. Satu penggalan yang paling saya sukai dari buku ini ternukil dari kisah Blaise Pascal; ” ....ia tidak menyajikan kesimpulan definitif keculai kerendahan hati, ketidaktahuan dan kasih karunia.” (hal. 26). Sejurus penggalan tersebut mengingatkan saya pada I Petrus 5:6 ”Rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” Tidak perlu mengejar kesempurnaan, hanya perlu sebentuk hati yang taat dan mau tunduk pada rencana-Nya untuk dapat memberi dampak pada dunia; perlu untuk berani menanggalkan keakuan dan meninggalkan zona aman dengan menyerahkan semua kepada Sang Empunya hidup. Setiap buku menyuguhkan sari kehidupan yang dalam keunikannya memberi kebijaksanaan. Demikian sederet kalimat tersebut tertera di sudut tersembunyi di buku mungil itu. Bagi yang tidak awas, tentu saja untaian kata tersebut akan terlewat begitu saja padahal sebaris tulisan itu sudah cukup untuk merangkum keseluruhan buku yang tidak sekedar layak dibaca, namun juga patut direnungkan ini. Sebuah buku biasa yang berdampak luar biasa – setidaknya bagi saya. Lepas dari segala kelebihan buku ini, saya menangkap beberapa hal yang sebenarnya dapat disajikan dengan lebih baik. Pertama, pada akhir tiap kisah, simpulan yang disajikan terkesan mengambang. Mungkinkah hal ini disengaja oleh penulis untuk memberi ruang bagi pembaca untuk menarik simpulan sendiri atas pengalaman membacanya? Selain itu, meski tak sekering biografi lain pada umumnya, beberapa bagian dari buku ini terkesan hanya menderetkan fakta sehingga terasa gersang. Bisa jadi hal ini dilakukan penulis untuk menjaga objektifitasnya dan menghindari melompat pada penilaian yang salah. Singkatnya, buku ini layak dibaca dan cukup menyentuh. Satu hal yang perlu diperhatikan ketika membacanya, jangan lihat deretan fakta dan pencapaian akhir tapi proses mencapainya ; ketika Tuhan mengijinkan perubahan terjadi. Buku mungil ini tersaji manis dan patut dimiliki. Salut untuk penulis yang berhasil memilih tema yang tepat untuk menggugah orang-orang yang merasa dirinya biasa-biasa saja untuk berani melakukan hal yang luar biasa. Kita mungkin terlalu lemah dan kecil untuk melakukan hal besar, namun bersama-NYA tidak ada hal yang terlalu besar untuk dilakukan. *** Penggalan ini tetap saja terbayang setelah saya selesai membaca buku itu: “Anda orang yang biasa-biasa saja? Berbahagialah! Kalau Allah sanggup memakai orang-orang biasa secara luar biasa, bukankah Anda termasuk satu kandidat yang tepat?..... kiranya kita dimampukan untuk berdiri dan berkata, ‘Saya ini bukan siapa-siapa dari diri saya sendiri, karena itu saya menyerahkan diri saya sepenuhnya ke dalam kekuatan dan anugrah Kristus.’ Amin!” (h. 13) Resensi oleh : Clara Anita Sumber : sabdaspace.org
»
|
CariUser loginRecent comments
Shoutbox KomselWho's new
Who's onlineThere are currently 0 users and 0 guests online.
|
Post new comment