Sosoknya terlihat sangat tenang dan membumi, terlihat santai dan terkesan menimati hidup apa adanya. Bibirnya tebal, janggutnya yang terlihat baru dicukur masih menampakan beberapa uban yang megasosiasikan pandangan orang-orang yang berada di sekitarnya. Tapi tanpa melihat adanya uban tersebut nampaknya orang-orang tidak akan ada yang menyangka kalau ia berusia di atas 35 tahun. Memakai pakaian yang kasual memang menjadi ciri khasnya. Wajah dengan bentuk elips vertikal, disertai bibir tebal, khas untuk menggambarkan perawakan mafia.
Sensitifitas yang terlihat sebagai fobia sosialnya nampaknya sudah mulai memasuki level yang akut. Entah kenapa nampaknya ia tidak terganggu oleh kenyataan demikian. gaya anti dinamikanya kadang membuatku bosan, aku malah teringat dengan anjing Jack_Russel jantanku berusia 5 bulanan yang tidak bisa diam di rumah.
Salah asuh, begitu yang aku pikirakan setiap melihatnya bertindak, keluarga yang keras, otoriter, dengan arogansi yang menular bagai virus ganas. Terkadang ia suka senyam-senyum sendiri, tidak nampak padanya suatu gairah kehidupan yang bisa terasa pancaran frekuensinya.
Ya, dialah Mr.ID...
Mr.ID memang menyebalkan, tidak bisa berdoa, tidak bisa bersosialisasi dan tidak bisa memberi kontibusi yang proaktif kepada lingkungannya. This is hard to believe man!!, Ok, lupakan Mr.ID itu, sekarang kita masuk kepada tahap memberdayakan Sang Mr. ID dengan bantuan dari seorang Dewan Motivator, merombak mindset dan menciptakan breaktrough, begitu kata para motivator, mereka mengatakannya dengan berapi-api dan sambil mengepalkan tangan membentuk sebuah uper cut yang parabol.
Dewan Motivtor : "Mr.ID, apa yang membuat Anda menjadi pribadi yang begitu datar, nampaknya Anda memiliki gen konvesional yang cukup berlimpah dalam diri Anda."
Mr.ID :"Ummm, saya tidak merasa begitu."
Dewan Motivator : "Nah, itulah maksud saya, Anda sangat sulit untuk merasakan sesuatu, tertarik terhadap sesuatu."
Mr.ID : Ummm, bagi saya yang penting bukan apa yang Anda rasakan, tapi apa yang saya rasakan, dan saya merasa nyaman saja, saya pun tidak mengganggu keberadaan Anda bukan !? Jadi peduli amat dengan semua modul motivasi Anda yang biasa Anda 'gelar' dengan tarif ribuan dolar."
*Dewan Motivator sangat jengkel dalam hatinya, tapi ia selalu punya prinsip yang WARAS ngalah*
-ooo-
Mr.ID adalah "The Happy Sickman", seseorang yang menikmati perasaan yang datar "The Man With Flat Heart" Sekarang ibunya yang lebih tua sekitar 40 tahunan mulai menceramahinya sebagaimana kebiasannya sebagai seorang Ibu kepada anak.
Ibu Mr ID: "Hey nak, muak aku lihat muka kau, belajarlah macam abang kau, biar guna dikit kau ah."
Mr.ID: "...."
Ibu Mr.ID: "Cepat jadi 'orkay' lah, biar kau bisa cepat kawin, semua abang kau sudah punya bebi, kau tahu."
Mr.ID:"...."
*Mr.ID bukan terdiam tanpa arti, ia diam untuk memfokuskan diri, supaya omelan Sang Bunda bisa menjadi pengiringnya menuju kepada alam bawah sadar yang biasa membuatnya bermimpi indah, what a man!!
-000-
"The Happy Sickman" menjadi tua renta, rambutnya pun sudah banyak yang beruban, tidak disangka, ia selalu nampak lebih muda 10 tahun jika dilihat dari kontur kulit wajahnya, No Smoking and No Alkohol nampaknya sukses dalam menampilkan kesan awet, sejauh ini;tidak ada seorangpun yang tahu mengapa ia begitu suka menjalani hidup dengan datar, mungkin ia adalah seorang Stoikis era milenium ke-3.
Aku jadi ingat soal perumpamaan talenta yang disimpan (Matius 25: 14-30), bukan..maksudnya ditimbun, dikubur dalam-dalam. Kenapa yang mengubur adalah orang dengan satu talenta, bukan 10 ? Kenapa yang 10 justru asyik, yang pasti orang dengan satu talenta itu ketakutan, kalau hilang habislah semuanya, sedangkan yang memiliki talenta lebih bisa "bermain lepas". Pressure, we need it, but we don't eaten by it."
Ada kontras dari komentar sang tuan terhadap hamba 1, 2 dan yang ke 3 dalam Matius 25: 14-30. Baik kontras jahat, dan setia dikontraskan dengan malas. Orang yang tidak setia tidak tentu menghujat Tuhan, namun dia malas. Ketidak setiaan menyatakan diri dalam bentuk malas; ketika kita tidak maksimal untuk Tuhan, kita tidak setia. Hamba ketiga ini tidak boros seperti anak yang hilang, 1 talenta itu 6000 dinar, upah sehari kerja itu adalah 1 dinar, jadi 1 talenta adalah jumlah yang sangat besar.
Dia berdiam diri, takut salah, tidak beriman dan tidak mengasihi; waktu Tuannya kembali dia dengan percaya diri mengembalikannya. Disini kita melihat stagnasi/ keberhentian rohani, ini sangat berbahaya, tidak bertumbuh dalam pengenalan, dalam kerendahan hati, dalam kesetiaan. Kita harus bertumbuh dan berubah makin seperti Kristus. Kita perlu mengenal talenta yang diberikan kepada kita dan kita perlu bertanggung jawab dan mengerti tempat kita. Kalau kita tidak tahu tempat kita, kita cenderung akan sangat suka mengritik orang laen, bukan untuk membangun namun sebagai kompensasi karena dia tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Siapapun kita, sudah diberi talenta oleh Allah, minimal 1 talenta, mari kita kenal diri kita, mengerti apa yang harus kita lakukan.
Kita tidak dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan baik kita. Kalau kita mencoba untuk dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan baik kita maka kita bukan orang Kristen. Tetapi kita juga tidak bisa mengaku sebagai orang Kristen kalau kita tidak punya perbuatan baik. Kalau kita tidak bekerja untuk Kristus, maka kita tidak dibenarkan. Kita boleh diselamatkan dan beroleh hidup baru. Ketika anugerah dan keselamatan tiba, kita tidak boleh lagi hidup seperti sebelum kita menerima anugerah dan keselamatan tersebut.
*Mr.ID; He Need to CHANGE or "DIE"*






Post new comment