Saat jasad Pak Roiz masih terbujur kaku di ruang tengah rumahnya, dikelilingi keluarganya yang menangis histeris beserta dengan sanak-saudara dan tetangga-tetangga yang lain, nyawa Pak Roiz tengah melayang-layang di sebuah lorong yang gelap, panjang dan berliku. Setelah beberapa saat, nyawa itu pun sampai di sebuah tempat yang sangat indah dan penuh kedamaian.
“Tempat apakah ini?” tanya nyawa itu pada sebuah sosok yang tengah berjaga di pintu gerbang .
“Inilah yang dinamakan sorga. Apakah engkau tidak mengenalnya?” jawab sosok itu yang ternyata adalah seorang malaikat.
“Sorga? Ah… kebetulan, aku sudah memimpikannya sejak lama. Seumur hidupku, aku habiskan untuk bisa masuk ke tempat ini. Dapatkah aku segera masuk ke sana?” nyawa itu terlihat sangat gembira. Bergegas ia melangkah dengan tergesa.
“Eh… tunggu dulu… Engkau tidak boleh masuk!” kata malaikat itu dengan suara keras.
“Loh… kenapa? Bukankah selama ini aku sudah banyak berbuat kebaikan? Sepanjang hidupku, aku selalu mengajarkan kebaikan kepada setiap orang. Orang yang lemah aku tolong, orang yang miskin aku bantu keuangannya. Aku juga banyak menyumbang untuk pembangunan rumah-rumah ibadat. Apakah itu semua belum cukup?!” jawab nyawa itu dengan suara tak kalah keras.
Malaikat itu tertawa. Sejenak dipandangnya nyawa di depannya sebelum menjawab, “Ingatkah, apa yang engkau lakukan beberapa hari lalu di dunia sana?”
Nyawa itu terdiam. Terbayang kembali kejadian beberapa hari lalu.
“Tidak! Sekali lagi aku katakan tidak!” tegas Pak Roiz.
“Tapi pak… bukankah Udin adalah warga desa sini yang dikenal aktif di karang taruna dan berperilaku baik. Mengapa ia tidak boleh dikubur di tempat ini?” tanya pak Kadus sekali lagi.
“Itu masa lalu. Udin yang aku kenal sekarang hanyalah seorang teroris yang tega berbuat kejam untuk sesamanya!” jawab Pak Roiz.
Akhirnya, meski tanah sudah digali, jenasah Udin tidak dapat dikuburkan di Desa Sedayu. Akibat omongan Pak Roiz, hampir semua penduduk desa sepakat menolak jenasah tersebut. Mereka tidak ingin desa mereka dicap sebagai sarang teroris.
“Nah… masihkah engkau merasa pantas untuk masuk surga? Sangkamu perbuatan baikmu sudah cukup… lalu… bagaimana dengan segala dosa yang pernah engkau lakukan? Apakah Tuhanmu akan mengampunimu kalau engkau sendiri tidak mau mengampuni saudaramu yang bersalah?”
Mendengar pertanyaan malaikat itu, sang nyawa pun hanya tertunduk.
Malaikat itu pun kemudian pergi setelah menggerendel pintu gerbang surga dengan gembok yang sangat besar. Kehadiran sang nyawa tidak dihiraukannya lagi.






Post new comment